NEWS UPDATE :  

Berita

Pentingnya Satu Frekuensi dalam Pengasuhan dan Pendidikan Anak



Islam telah mengajarkan kepada kita bahwa ibu adalah madrasatuluula (sekolah pertama dan utama) bagi anak-anaknya. Seorang ibu bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan pendidikan anaknya. Kitalah, sebagai ibu, yang berperan penting menanamkan fondasi dasar pemahaman Islam bagi anak-anak kita, sehingga anak-anak kita akan mampu menjawab dengan benar dari mana ia berasal, untuk apa hidup di dunia, dan akan ke mana kelak setelah kehidupan di dunia. Menjadikan ketaatan kepada Allah di atas segalanya dan senantiasa menjauhi larangan-Nya, memahami dan patuh terhadap syariat, sehingga ketika kelak mereka memasuki dunianya yang berwarna, mereka paham bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap.

Dengan penanaman akidah dan syariat Islam yang lurus, kita berharap anak-anak kita kelak seiring prosesnya menuju dewasa, mereka memiliki integritas tinggi sebagai seorang muslim sejati. Mereka mampu bersikap tegas menolak yang batil dan membela yang hak. Mengambil yang halal dan menolak yang diharamkan oleh Allah, berlapang dada untuk terus belajar hukum-hukum Islam, dan mempelajari tsaqafah Islam dan menerapkannya dalam kehidupan.

/Satu Frekuensi dalam Pola Pengasuhan Anak, Penting! /

Tidak dapat dimungkiri bahwa proses pengasuhan dan pendidikan anak bukan suatu hal yang mudah, akan tetapi bukan pula merupakan hal yang tidak bisa kita lakukan. Memang butuh upaya yang sungguh-sungguh dan senantiasa memanjatkan doa yang khusyuk agar kita selalu diberi kekuatan dan kemudahan.

Selain itu, proses pengasuhan dan pendidikan anak juga harus ditopang oleh para ayah dari anak-anak kita. Di pundak mereka pula terdapat tanggung jawab pendidikan bagi anak. Ketika proses pengasuhan dan pendidikan anak ini dilakukan bersama-sama oleh ayah dan ibu, tentu saja akan menjadi lebih ringan. Karenanya, adanya kesamaan langkah antara ayah dan ibu merupakan hal yang penting dalam proses pembentukan kepribadian anak, terlebih berkaitan dengan hal-hal yang mendasar atau prinsip hidup.

Pada faktanya, kadang kala terjadi perbedaan pemahaman antara ayah dan ibu tentang sesuatu dan kerap hal ini membawa dampak kepada pola asuh terhadap anak-anak. Jika hal ini berkaitan dengan hal yang prinsip tentu saja harus diselesaikan dengan baik oleh pasangan ayah dan ibu, dengan mengembalikannya kepada tuntunan syarak. Akan tetapi jika berkaitan dengan permasalahan cabang atau berkaitan dengan hal yang mubah, maka hal ini pun harus didiskusikan dengan baik, tidak mengedepankan ego masing-masing yang pada akhirnya anaklah yang menjadi korban.

Jika kita cermati fakta yang ada, ketika ayah dan ibu tidak satu frekuensi (tidak memiliki penilaian dan ‘selera’ yang sama tentang sesuatu), saat mereka menunjukkan perbedaan dalam memperlakukan dirinya, anak akan mengalami kebingungan untuk menentukan siapa yang hendak diikuti. Jika hal ini terus berlanjut, ada bahaya yang dapat dialami anak, di mana anak akan kehilangan pijakan kepercayaan secara umum. Hal ini karena apa yang dilihatnya sebagai sesuatu yang tidak konsisten, sering berubah, dan tidak memiliki patokan yang tetap. Bahkan anak dapat menjadi pribadi yang oportunis.

Sebagai contoh, seorang anak tidak dibiasakan oleh ibunya makan permen, tapi kemudian suatu saat tertentu ayahnya memberinya permen agar berhenti menangis. Kadang kala kebiasaan baik yang sudah dibangun ibunya sekian lama, seketika rusak karena satu kali saja pelanggaran. Atau misalnya anak dimarahi ayahnya karena suatu kesalahan, tapi kemudian dibela oleh ibunya, atau sebaliknya. Situasi seperti ini akan menjadikan wibawa ayah di mata anak luntur, dan menjadikan anak ‘besar kepala’. Hal inilah yang harus dihindari oleh para orang tua.

Di sinilah pentingnya satu frekuensi antara ayah dan ibu, terlebih lagi jika ada kakek dan neneknya dalam pola pengasuhan dan pendidikan anak. Lalu, apa saja yang harus kita upayakan agar proses ini bisa berjalan dengan baik?

/Langkah Bersama Menyatukan Frekuensi/

Sudah seharusnya proses pengasuhan dan pendidikan anak menjadi proyek bersama yang dijalankan oleh ayah dan ibu. Meskipun memiliki peran yang berbeda dalam mengasuh anak sehari-hari, ayah dan ibu memiliki peran yang sama pentingnya dalam mengasuh anak. Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalkan terjadinya perbedaan yang selanjutnya akan menghasilkan keharmonisan dalam mengasuh dan mendidik anak, di antaranya:

1. Hukum Syarak Dijadikan Pijakan Utama Dalam Pengasuhan dan Pendidikan Anak
Menjadi suatu keharusan bagi setiap keluarga muslim untuk menjadikan Islam dan syariatnya sebagai panduan dan solusi terhadap seluruh permasalahan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga. Kita pahami bersama bahwa hukum syarak datang dari Allah Swt., yang bersifat tetap, sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal, pada akhirnya akan membawa kepada ketenteraman. Karenanya, ketika syariat Islam dijadikan sebagai rujukan, maka keluarga memiliki patokan yang jelas dan tegas dalam menilai segala sesuatu.
Dan ketika syariat Islam dijadikan sebagai pijakan ketika menghadapi masalah, maka inilah yang akan memudahkan bagi orang tua dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak, terlebih dalam hal-hal yang prinsip dan mendasar. Selanjutnya akan terbentuk kepribadian Islam yang tangguh pada seluruh anggota keluarga dan juga keberkahan dan ketenteraman akan senantiasa tercurah bagi keluarga kita. Di sinilah pentingnya orang tua untuk menguatkan pemahaman Islam di tengah-tengah anggota keluarga.

2. Konsisten
Ketika terjadi inkonsistensi pada kedua orang tuanya, maka biasanya (kecenderungan umum) anak akan berusaha mencari sisi yang paling menguntungkan. Misalnya saja jika seorang ibu menegur dengan tegas sementara sang ayah melindungi, maka anak akan ‘lari’ pada ayahnya. Sebaliknya jika seorang ayah memberi hukuman akan perilaku buruk anak namun ibunya tidak tega, diam-diam membelanya, maka anak akan mencari perlindungan pada sang ibu. Maka yang terjadi pada anak bukanlah mempelajari suatu nilai tertentu namun belajar lari dan mencari tempat yang aman.

Kadang ketika kita tidak konsisten justru akhirnya akan merusak segalanya, ibarat pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Ketika kita memberi kelonggaran sedikit saja, keteladanan yang sebelumnya sudah kita bangun akan rusak sehingga harus mengulangnya dari awal. Karenanya, orang tua harus selalu konsisten dalam mengasuh dan mendidik anak-anak serta memberikan keteladanan kepada anak-anaknya hingga hal-hal yang sekecil-kecilnya.

Menjaga kedawaman sebuah aktivitas kadang memang tidak mudah, ada saja godaannya dan seringkali ada keinginan untuk melanggarnya. Di sinilah justru perjuangan ayah dan bunda akan diuji. Tetapi yakinlah dengan kita senantiasa berpijak kepada hukum Allah dan terus meningkatkan takarub kita kepada Allah, maka kita akan semakin diberi kemudahan untuk terus bisa berusaha konsisten.

3. Keteladanan
Keluarga adalah poros penting dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak, karena keluarga (orang tua) merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama, di mana dia mendapatkan pengaruh darinya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak yang akan sangat membekas, sehingga tidak mudah hilang. Karenanya, keluarga merupakan batu fondasi bangunan dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan generasi Islam yang berkualitas, yaitu generasi yang memiliki kepribadian Islam yang kuat.

Kebiasaan yang disaksikan dan dialami oleh seorang anak dari orang tuanya akan -secara langsung atau pun tidak langsung- akan terekam dalam pikiran, bahkan sangat mungkin akan diikuti atau ditiru oleh anak-anak kita. Di sinilah pentingnya orang tua memberikan keteladanan bagi anak-anaknya, terlebih ketika keduanya satu frekuensi dalam mencontohkan hal-hal baik kepada anak. Maka hal ini akan semakin mempermudah tercapainya tujuan proses pengasuhan dan pendidikan orang tua kepada anak-anaknya.

4. Komunikasi dan kerja sama yang baik antara ayah dan ibu
Sebagaimana halnya yang sering terjadi dalam tim kerja, kekompakan kadang tidak selalu dapat diwujudkan, sulit untuk menyatukan perbedaan yang ada. Demikian pula pada tim ayah-ibu dalam konteks pengasuhan anak. Konflik yang terjadi akibat kesulitan menyatukan atau mengharmoniskan berbagai perbedaan yang ada pada pengasuhan anak bisa disebabkan oleh beberapa hal. Disadari atau tidak, cara mengasuh orang tua sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka dahulu diasuh di masa kanak-kanak.

Pengalaman diasuh di masa kanak-kanak akan menjadi sebuah model yang dijalankan ketika seseorang menjadi orang tua yang harus mengasuh anak-anaknya. Perlu dilakukan beberapa langkah agar perbedaan-perbedaan tersebut tidak merugikan pengasuhan anak-anak mereka. Dan memang pada akhirnya komunikasi yang baik antara ayah dan ibu menjadi penentu. Kerja sama antara ayah dan ibu pun harus terus diupayakan sehingga tidak terjadi kebingungan pada anak. Keduanya butuh duduk bersama dan berdiskusi mengenai bagaimana sebaiknya melakukan pengasuhan terhadap anak.

Jika perbedaan itu dapat disamakan, hal ini merupakan langkah ideal. Jika masing-masing mengemukakan pendapat yang didasari semata-mata kepentingan anak, menyamakan pendapat, yang sering kali berarti mengubah suatu pendapat, umumnya lebih mudah dilakukan.
Jika ternyata ada perbedaan-perbedaan yang sulit diubah untuk disamakan, diperlukan kerendahan hati dari salah satu pihak untuk memercayai pandangan pasangannya yang diputuskan bersama untuk diterapkan dalam pengasuhan anak. Hal ini penting karena di depan anak, kedua orang tua harus menunjukkan kekompakan.

/Khatimah/

Kadang memang tidak dapat dihindari adanya pola asuh dan didik yang berbeda pada orang tua, ayah dan ibu. Pasalnya, memang tak ada orang tua yang sama persis dalam hal pola asuh. Tentu saja hal ini bukan merupakan penghalang untuk terjadinya proses pengasuhan dan pendidikan yang baik bagi anak-anak. Ketika kedua orang tua menjadikan syariat Islam sebagai pijakan dalam melaksanakan proses tumbuh kembang anak dan konsisten menerapkannya, maka perbedaan tersebut akan dapat teratasi.

Terlebih lagi dengan adanya komunikasi yang baik, diskusi, serta kerja sama dan saling mengalah untuk kebaikan anak-anak, maka akan mampu menyatukan kedua pola asuh yang berbeda tersebut, sehingga akhirnya perbedaan ini pun akan bisa menjadi sesuatu yang produktif bagi proses pengasuhan dan pendidikan anak-anak.


Penulis: Najmah Saiidah

KEGIATAN TERBARU

Keceriaan Market Day SDIT Bina Cendekia Kota Depok

Pemenang Lomba Semarak Maulid Nabi

Semarak Maulid Nabi 1444 H